new.thetea.app · sampling channel Encyclopedia · School · Atlas · Pu-erh · Equipment EN · RU · · · · FR · ES · AR · DE · JA · KO
+61 more
new.thetea.app Browse all →

home · article

Shūchéng Xiǎo Lán Huā

Shūchéng xiǎo lán huā · 舒城小兰花

Shūchéng Xiǎo Lán Huā adalah teh hijau dari Anhui, yang tampilannya menyerupai bunga anggrek yang baru mekar, sementara aromanya mengandung nada anggrek yang sesungguhnya. Di balik paduan bentuk dan aroma yang menakjubkan ini terdapat tradisi keterampilan lebih dari tiga abad dan terroir unik di kaki bukit timur…

Shūchéng Xiǎo Lán Huā adalah teh hijau dari Anhui, yang tampilannya menyerupai bunga anggrek yang baru mekar, sementara aromanya mengandung nada anggrek yang sesungguhnya. Di balik paduan bentuk dan aroma yang menakjubkan ini terdapat tradisi keterampilan lebih dari tiga abad dan terroir unik di kaki bukit timur Dabieshan.

1. Klasifikasi dan Asal-Usul:

  • Jenis: Teh hijau (tidak difermentasi); termasuk kategori hōngqīng (烘青, hōngqīng) — dengan peran dominan pemanggangan arang (烘焙) pada tahap akhir; sementara fiksasi dilakukan dengan metode penggorengan dalam wajan (锅炒杀青), sehingga teknologi ini merupakan gabungan “goreng-panggang” (炒烘结合).
  • Kategori: Teh terkenal bersejarah Anhui (安徽历史名茶); salah satu dari sepuluh teh terkenal tradisional provinsi (安徽十大传统名茶). Perwakilan aliran “aroma anggrek” teh hijau (兰香型绿茶).
  • Asal: Tiongkok, Provinsi Anhui (安徽, Ānhuī), Kabupaten Shucheng (舒城, Shūchéng), Kota setingkat prefektur Lu’an (六安, Lù’ān). Terletak di lereng timur Pegunungan Dabieshan (大别山, Dàbiéshān), di antara Sungai Yangtze dan Sungai Huaihe. Zona lindung indikasi geografis mencakup daerah pegunungan kabupaten: kecamatan dan desa Xiaotian (晓天), Tangchi (汤池), Luzhen (庐镇), Hebang (河棚), Gaofeng (高峰), serta Wuxian (五显), Chunqiu (春秋), Nangang (南港), Shucha (舒茶).
  • Koordinat Geografis: 31°01′–31°34′ LU, 116°26′–117°15′ BT (menurut rujukan asli kabupaten). Pusat produksi — kawasan 31°27′–31°48′ LU, 116°49′–117°01′ BT.

2. Sejarah dan Makna Budaya:

  • Sejarah: Shucheng adalah daerah teh kuno. Menurut “Sejarah Baru Tang” (《新唐书·地理志》), telah pada era Tang dan Song teh setempat terkenal dan termasuk yang dipersembahkan ke istana. Namun, teknologi masa itu secara fundamental berbeda dari yang modern: rupa “Teh Anggrek” (兰花茶, Lánhuā chá) saat ini dengan aroma khasnya diciptakan pada era Qing (清朝), diperkirakan pada akhir abad XVII — awal abad XVIII. Pakar teh ternama Chen Chuan (陈椽, Chén Chuán) dalam “Kitab Teh Anhui” (《安徽茶经》) menuturkan: “sebelum Qing pun kalangan elit setempat sudah memberikan perhatian khusus pada produksi teh anggrek.” Dalam karya fundamentalnya “Kumpulan Penelitian Teh Terkenal Tiongkok” (《中国名茶研究选集》) dan “Ilmu Pengolahan Teh” (《制茶学》), Shūchéng Xiǎo Lán Huā disejajarkan dengan mahakarya seperti Biluochun (碧螺春), Taiping Houkui (太平猴魁), Yongxi Huoqing (涌溪火青), Lu’an Guapian (六安瓜片) dan Tieguanyin (铁观音). Dengan demikian, sejarah teh ini mencapai setidaknya 300 tahun.

    Tentang asal-usul nama terdapat dua legenda rakyat. Legenda pertama bercerita tentang gadis bernama Lan Hua (兰花, “Anggrek”) dari Desa Baisangyuan (白桑园) di Kecamatan Xiaotian: ia adalah pengrajin cekatan yang tehnya memiliki aroma dan bentuk luar biasa menyerupai anggrek. Para pedagang dari Shandong membelinya dengan harga tinggi, dan Lan Hua, ingin membantu sesama warga, bekerja siang malam hingga meninggal karena kelelahan; penduduk setempat menamai teh itu sebagai kenangannya. Legenda kedua berkaitan dengan pengrajin Shen Xingyu (沈兴余) dari Huangjiawan (黄家湾) di Desa Moziyuan (磨子园): tehnya begitu mengesankan pedagang Zheng Guoying (郑国英) dari Tongcheng sehingga ia berseru: “Bentuknya mirip bulir jelai, aromanya semerbak bunga anggrek.”

    Pada tahun 1958, Mao Zedong mengunjungi komune rakyat Shucha (舒茶人民公社) di Kabupaten Shucheng, mencicipi teh setempat dan menyampaikan pesan terkenal: “Mulai sekarang, di lereng-lereng gunung harus lebih banyak dibuka kebun teh” (以后山坡上要多多开辟茶园). Kunjungan ini memberi dorongan kuat bagi pengembangan perkebunan teh di kabupaten dan di seluruh negeri. Pada tahun 1995, Wen Jiabao (温家宝) mengunjungi Shucheng, yang juga turut mendorong kebangkitan industri teh lokal. Pada 1980-an, berdasarkan teknologi tradisional dikembangkan produk baru: Bai Shuang Wu Hao (白霜雾毫) dan Wan Xi Zao Hua (皖西早花), yang meraih status “Teh Terkenal Anhui” pada tahun 1987. Pada tahun 2016, Shūchéng Xiǎo Lán Huā memperoleh perlindungan sebagai indikasi geografis nasional (国家地理标志保护产品). Teknologi produksinya didaftarkan dalam pusaka budaya takbenda Provinsi Anhui (2010).

  • Nama: Shūchéng (舒城) adalah nama kabupaten. Xiǎo (小) — “kecil”, membedakan teh ini dari “Da Lan Hua” (大兰花, dari bahan baku dengan 4–5 daun) yang berdaun lebih besar. Lán Huā (兰花) — “anggrek”: nama merujuk pada penampilan (tunas yang bersatu dengan daun menyerupai bunga anggrek) maupun aroma (nada anggrek yang nyata). Rumus kualitas yang berlaku umum — “tiga anggrek” (三兰, sān lán): bentuk anggrek (兰花形), warna anggrek (兰草色), aroma anggrek (兰花香).

  • Makna Budaya: Shūchéng Xiǎo Lán Huā adalah kartu nama kabupaten, “nama emas”-nya (金名片). Teh ini terdaftar sebagai indikasi geografis nasional (证明商标), masuk dalam daftar “Produk Agro Baru dan Unggulan Tiongkok” (全国名特优新农产品), memperoleh status “Merek Dagang Terkenal Anhui” (安徽省著名商标). Pada tahun 2022, luas kebun teh kabupaten mencapai 133.000 mu (sekitar 8.867 hektar), produksi tahunan 4.000 ton teh kering, total nilai industri teh 23,5 miliar yuan. Sekitar 20 kecamatan dan desa, lebih dari 55.000 rumah tangga petani dan 200.000 pekerja teh terlibat dalam budidaya teh.

3. Deskripsi Botani dan Bahan Baku:

  • Spesies: Camellia sinensis var. sinensis.
  • Varietas / Kultivar: Dasarnya adalah penanaman populasi lokal (当地群体种, dāngdì qúntǐzhǒng), yang selama berabad-abad beradaptasi dengan kondisi Dabieshan dan memiliki ketahanan dingin tinggi. Atas dasarnya dikembangkan tiga kultivar yang diakui secara nasional: Shucha Zao (舒茶早, Shūchá Zǎo) — varietas awal, Shanpo Lü (山坡绿, Shānpō Lǜ) dan Guyu Chun (谷雨春, Gǔyǔ Chūn). Luas perkebunan dengan perbanyakan klonal (无性系良种) mencapai 66.000 mu, tingkat kemurnian varietas sekitar 50%.
  • Pemetikan: Periode mulai dari Guyu (谷雨, pertengahan April) dan seterusnya. Untuk Xiǎo Lán Huā diperlukan bahan baku yang lembut, segar dengan bulu halus melimpah, warna hijau kekuningan merata, tanpa tunas ungu (紫芽). Pada grade tertinggi, pucuk harus lebih panjang dari daun. Pemetikan bertepatan dengan mekarnya anggrek liar di gunung — diyakini bahwa pucuk teh menyerap aromanya.
  • Standar Petik: Satu pucuk dengan satu daun yang mulai membuka (一芽一叶初展) — untuk grade istimewa dan pertama; satu pucuk dengan dua-tiga daun (一芽二叶至一芽三叶) — untuk Xiǎo Lán Huā standar; satu pucuk dengan empat-lima daun — untuk Da Lan Hua (大兰花). Bahan baku yang dipetik langsung diolah pada hari yang sama (现采现制).
  • Persyaratan Bahan Baku: Pucuk utuh, tidak rusak, tanpa jejak pemanasan berlebih, kelayuan atau kerusakan mekanis.

4. Terroir dan Karakteristik Budidaya:

  • Ketinggian Tumbuh: Standar indikasi geografis mensyaratkan minimal 300 m. Gunung-gunung teh utama: Baisangyuan (白桑园), Jiaozi Shi (珓子石), Moziyuan (磨子园), Longmianshan (龙眠山), Xiaomailing (小麦岭), Gujizhai (古迹寨), Tianzizhai (天子寨). Titik tertinggi kabupaten — Gunung Wanfoshan (万佛山, 1.539 m).
  • Iklim: Zona lembab subtropis utara (北亚热带湿润气候). Suhu rata-rata tahunan 15 °C; curah hujan tahunan 1.200–1.600 mm (pegunungan menerima curah tertinggi); rata-rata jumlah hari berkabut per tahun — lebih dari 280; kelembaban relatif ≥ 80%; perbedaan suhu siang-malam signifikan. Kondisi cahaya tersebar mendukung akumulasi asam amino.
  • Tanah: Tanah kuning-cokelat (黄棕壤), pH 5,5–6,5, kandungan bahan organik ≥ 1,5%, kedalaman profil tanah ≥ 1,0 m. Tanah diperkaya dengan unsur mikro: selenium (硒) dan seng (锌), yang berpengaruh positif pada komposisi mineral teh.
  • Agroteknik: Kabupaten ini menerapkan model unik “teh — hutan — pupuk hijau” (茶—林—绿肥): semak teh tumbuh di antara pepohonan dan tumbuhan liar (rhododendron, anggrek, pakis), membentuk “topi” dari hutan di puncak, “sabuk” dari semak dan rumput di lereng dan “sepatu” dari rumput di kaki bukit (头戴帽,腰系带,脚穿鞋). Puluhan tahun hidup berdampingan dengan hutan menjenuhkan pohon teh dengan komponen aromatik alami. Tingkat kelestarian hutan di wilayah ini — 93%; tidak ada pencemaran industri. Pupuk terutama berupa bungkil (饼肥) dan organik. Kabupaten ini tersertifikasi sebagai “Pangkalan Produk Organik Nasional (Teh)”.

5. Teknologi Produksi:

Teknologi tradisional Shūchéng Xiǎo Lán Huā memadukan fiksasi wajan (锅炒杀青) dengan api arang (炭火烘焙) — justru pemanggangan arang akhir yang “membukakan” aroma anggrek.

  • Penebaran dan Sortasi (摊凉拣剔 — tānliáng jiǎntī): Pucuk segar ditebarkan untuk menghilangkan kelembaban permukaan dan menyortir daun cacat.
  • Fiksasi dan Pembentukan (锅炒杀青、做型 — guōchǎo shāqīng, zuòxíng): Dilakukan dalam dua wajan miring yang disambung (两口并连斜锅) di atas tungku khusus. Pengrajin bekerja dengan sapu bambu dari bilah bambu padat (实心竹丝把), melakukan gerakan memutar satu arah. Prinsip: “sapu tak lepas dari teh, teh tak lepas dari wajan” (把不离茶,茶不离锅). Di wajan depan (panas) didominasi gerakan melambungkan, di wajan belakang (dingin) — penggulungan dan penekanan, membentuk karakteristik “bentuk kait” pucuk (弯钩状). Tujuannya membawa daun ke kondisi “lima bagian kering” (五成干), saat muncul bunyi “sha-sha” dan aroma yang jelas.
  • Pengeringan Awal di Atas Arang (炭火笼初烘 — tànhuǒ lóng chūhōng): Secara tradisional digunakan arang kayu ek atau kayu tung (黄栗树/桐树). Produk setengah jadi diletakkan di atas baki bambu anyaman (篾制烘斗) dan dikeringkan pada suhu 100–120 °C hingga kadar air 70–80%. Tahap ini meletakkan dasar aroma anggrek.
  • Sortasi (拣剔 — jiǎntī): Penghilangan daun kuning, batang dan bagian yang tidak sesuai standar.
  • Pengeringan Akhir Arang (足烘 — zúhōng): Suhu diturunkan ke 80–100 °C; daun dikeringkan hingga kadar air ≤ 6%. Pada momen inilah aroma anggrek terungkap paling penuh — “dalam panas mencuat seuntai aroma” (热气上冒一支香).

Pada produksi mekanis, antara fiksasi dan pengeringan ditambahkan tahap penggulungan (揉捻) dan/atau pelurusan bentuk mesin (理条, lǐtiáo), namun metode manual tradisional lebih dihargai.

6. Karakteristik Organoleptik:

  • Penampilan Daun Kering: Pucuk bersatu dengan daun menyerupai anggrek yang sedang mekar; bentuk — pilinan tipis “kait” (条索细卷呈弯钩状), terbentang alami. Warna — hijau zamrud cerah (翠绿匀润) dengan bulu keperakan yang mencolok (毫锋显露).
  • Aroma Daun Kering: Segar bersih dengan nada anggrek yang nyata dan latar berangan. Rumus “tiga aroma” (三香): aroma pertama — saat membuka kemasan (清香扑鼻, “aroma bersih menyergap hidung”), aroma kedua — pada seruputan pertama (满口生香, “seluruh mulut dipenuhi aroma”), aroma ketiga — pada aftertaste (齿颊留香, “aroma bertahan di antara gigi dan pipi”).
  • Aroma Seduhan: Segar, tahan lama, dengan nada anggrek yang sangat menonjol (兰花香型) — ciri organoleptik utama teh ini. Nada berangan (栗香) dan bunga berpadu harmonis.
  • Rasa: Segar, juicy (鲜爽), manis-lembut (甘醇), dengan aftertaste manis yang panjang (回甘持久). Jika diseduh dengan benar — tanpa jejak pahit; sensasi “kesegaran” (爽) dan “antisipasi” seruputan berikutnya.
  • Warna Seduhan: Hijau lembut, cerah dan jernih (汤色嫩绿明净). Dengan bahan baku yang lebih tua — hijau kekuningan.
  • Dasar Cangkir (Daun Terseduh): Pucuk berkumpul dalam “buket mungil” (叶底成朵), warna — hijau kekuningan lembut (嫩黄绿色), seragam; tekstur berdaging, membuktikan kualitas bahan baku yang baik.

7. Komposisi Kimia:

  • Polifenol (茶多酚): Kadarnya khas untuk teh hōngqīng pegunungan — moderat, yang menjamin kelembutan rasa. Menurut beberapa sumber, efektivitas antibakteri polifenol Xiǎo Lán Huā terhadap mikroorganisme patogen lebih tinggi daripada sejumlah teh hijau lainnya.
  • Asam Amino (氨基酸): Kandungan L-theanine tinggi berkat iklim pegunungan berkabut dengan cahaya tersebar. Asam amino inilah yang memberikan rasa “xiānshuǎng” (鲜爽) yang khas.
  • Alkaloid: Kafein — kadarnya tergolong “tinggi” (咖啡碱含量高); sinergi dengan theanine memberikan efek menyegarkan yang nyata dengan tetap menjaga kelembutan.
  • Minyak Atsiri dan Senyawa Aroma: Aroma anggrek terbentuk secara kompleks: prasyarat alami (tumbuh di antara anggrek, menyerap molekul aromatik selama pemetikan) dilengkapi dengan pengungkapan teknologis saat pemanggangan arang. Komponen kunci: linalool, nerol, geraniol, cis-jasmone.
  • Vitamin: C, B₁, B₂, E, karotenoid.
  • Mineral: Selenium (硒) dan seng (锌) — unsur mikro yang memperkaya tanah setempat, yang membedakan Shucheng dengan daerah teh Anhui lainnya.
  • Aktivitas Antioksidan: Menurut beberapa sumber, kemampuan polifenol Xiǎo Lán Huā menetralisir radikal bebas 18 kali lebih tinggi daripada vitamin E.

8. Khasiat Kesehatan:

  • Efek Antibakteri dan Antiradang: Efektivitas polifenol yang meningkat terhadap patogen — salah satu keistimewaan yang ditonjolkan dalam sumber-sumber Tiongkok.
  • Efek Tonik: Kandungan kafein tinggi yang dikombinasikan dengan theanine menjamin kejernihan pikiran dan kewaspadaan tanpa kecemasan.
  • Perlindungan Antioksidan: Katekin dan vitamin C mendukung kesehatan sel dan memperlambat proses oksidasi.
  • Dukungan Pencernaan: Polifenol merangsang peristaltik dan menormalkan mikroflora.
  • Sistem Kardiovaskular: Konsumsi rutin membantu menjaga elastisitas pembuluh darah dan kadar kolesterol normal.
  • Fungsi Kognitif: L-theanine mendukung ritme alfa otak.
  • Dukungan Imun: Kompleks vitamin dan unsur mikro (selenium, seng) memperkuat fungsi pertahanan.
  • Tidak dianjurkan diminum saat perut kosong (tanin dapat mengiritasi mukosa); teh baru sebaiknya disimpan 15 hari untuk “melepaskan api” (褪火气); bagi yang sensitif terhadap kafein — hanya pada pagi hari.

9. Penyeduhan:

  • Suhu Air: 80–85 °C. Air mendidih dikontraindikasikan — merusak klorofil, seduhan menjadi kuning, dan aroma kehilangan kehalusan.
  • Jumlah Teh: 3–5 g per 150 ml (metode gelas); 5–7 g per 100–120 ml (gaiwan gaya gongfu).
  • Peralatan: Gelas kaca (玻璃杯) — memungkinkan menyaksikan pucuk “berdiri” dalam cangkir seperti anggrek yang sedang mekar; gaiwan porselen (盖碗) — untuk penyeduhan terkontrol dengan penirisan.
  • Proses:
    1. Panaskan peralatan dengan air panas, buang.
    2. Masukkan teh.
    3. Seduhan pertama: tuang air 80–85 °C, diamkan 30 detik.
    4. Seduhan kedua hingga keenam: tambah waktu 10 detik (gongfu), 6–10 seduhan.
    5. Dengan metode Eropa: 2–3 menit; jika terasa pahit — turunkan suhu atau kurangi takaran.
  • Air: Air lunak (mineralisasi rendah) menonjolkan rasa manis dan nada anggrek. Air sadah menekan aroma.

10. Penyimpanan:

  • Wadah kedap udara tak tembus cahaya; lindungi dari cahaya, kelembaban, aroma asing dan fluktuasi suhu.
  • Optimal — lemari pendingin pada suhu 0–5 °C dengan kemasan vakum rapat atau aluminium foil.
  • Teh baru disarankan didiamkan sekitar 15 hari di tempat gelap dan sejuk untuk “beristirahat” setelah pemanggangan arang.
  • Paling ekspresif dalam 6–12 bulan pertama setelah produksi.

11. Harga dan Cara Menghindari Pemalsuan:

  • Rentang harga bergantung pada grade dan musim: grade istimewa (特级, pucuk tunggal dengan daun mulai membuka, ≥ 90% keseragaman) berkisar 800 yuan per 500 g ke atas; produksi massal jauh lebih terjangkau. Bahan baku dari pusat produksi (Baisangyuan, Moziyuan) sangat dihargai.
  • Cara Menghindari Pemalsuan:
    • Verifikasi asal: Xiǎo Lán Huā asli harus diproduksi di daerah pegunungan Kabupaten Shucheng (ketinggian ≥ 300 m) — produk awal (sebelum 25 Maret) dari daerah lain kemungkinan besar bukan Shūchéng Xiǎo Lán Huā yang asli.
    • Penampilan: pucuk dengan daun menyatu dalam “kait” menyerupai anggrek; bahan baku yang kasar dan patah-patah adalah tanda pemalsuan.
    • Aroma: Xiǎo Lán Huā asli memiliki nada anggrek yang jelas, bukan sekadar “kesegaran hijau”.
    • Seduhan: jernih, hijau lembut; keruh atau gelap patut dicurigai.
    • Label: harus ada logo indikasi geografis (地理标志) dan informasi produsen.

12. Fakta Menarik:

  • Legenda “delapan belas semak keramat” (十八棵神茶): setelah kematian Lan Hua, penduduk desa menguburnya di kaki pohon teh terbaik di lereng Xiaomaitang (小麦淌), dan tak lama kemudian di sana tumbuh 18 semak yang dapat dipetik pada siang hari — dan keesokan paginya mereka telah dipenuhi tunas baru. Pohon-pohon ini menjadi sumber bahan baku paling bernilai.
  • Saat diseduh, pucuk Xiǎo Lán Huā “berdiri” vertikal dalam gelas, seperti buket mini anggrek — efek yang membuat teh ini dihargai bukan hanya sebagai minuman, tetapi juga tontonan estetis. Ungkapan rakyat terkenal — “panas mengepul — seuntai aroma” (热气上冒一支香): saat membuka tutup gaiwan panas, wajah seketika disergap aliran tunggal wangi anggrek yang terkonsentrasi.
  • Kunjungan Mao Zedong ke Komune Shucha pada tahun 1958 menjadi titik balik tidak hanya bagi Shucheng, tetapi bagi seluruh perkebunan teh Tiongkok: seruannya “perbanyak kebun teh di lereng gunung” diterima sebagai program nasional dan menyebabkan perluasan besar-besaran perkebunan teh di seluruh negeri.
  • Kabupaten Shucheng terletak pada “Paralel ke-31” yang terkenal (北纬31°) — garis lintang yang di Tiongkok disebut “sabuk emas perkebunan teh” dan di atasnya juga terdapat Xi Hu Long Jing, Lu’an Guapian, dan teh-teh besar lainnya.

13. Perbandingan dengan Teh Hijau Lainnya:

  • Lu’an Guapian (六安瓜片, Lù’ān Guāpiàn): Tetangga dari Anhui — satu-satunya teh hijau di dunia tanpa pucuk dan batang, hanya lembaran daun. Penampilan dan rasa yang sama sekali berbeda: Guapian lebih padat, lebih kaya, dengan karakter “berapi” yang terang berkat teknik “lao huo” (拉老火). Xiǎo Lán Huā lebih elegan, lebih ringan, dengan nada anggrek yang menonjol.
  • Huoshan Huang Ya (霍山黄芽, Huòshān Huáng Yá): Teh kuning dari kabupaten tetangga Huoshan, juga terletak di Dabieshan. Huoshan Huang Ya melewati prosedur menhuang (闷黄, “menuning”), yang memberinya karakter lebih lembut dan manis. Xiǎo Lán Huā adalah teh hijau murni, lebih segar dan lebih cerah dalam aroma.
  • Taiping Houkui (太平猴魁, Tàipíng Hóu Kuí): Teh hijau terkenal Anhui lainnya dengan daun pipih besar dan aroma “anggrek” yang khas. Namun, nada anggreknya kurang intens, dan bentuk daunnya sangat berbeda — Houkui monumental, Xiǎo Lán Huā mungil dan anggun.
  • Jingxian Lanxiang (泾县兰香, Jīngxiàn Lánxiāng): Teh hijau dari kabupaten tetangga Jingxian — perwakilan “anggrek” lain dari aliran Anhui. Mirip gaya, tetapi Shūchéng Xiǎo Lán Huā dibedakan oleh bentuk “kait” yang khas dan lapisan berangan yang lebih terasa.

Kesimpulan:

Shūchéng Xiǎo Lán Huā adalah teh-puisi. Di dalamnya segala sesuatu tunduk pada satu ide — anggrek: bentuk pucuk, warna seduhan, dan, yang terpenting, aroma yang sulit ditangkap namun tak salah lagi, yang tak akan tertukar dengan teh hijau mana pun. Di balik keanggunan anggrek ini terdapat terroir pegunungan Dabieshan yang keras, penanaman populasi berabad-abad yang tumbuh berdampingan dengan anggrek liar, dan pengrajin dengan sapu bambu yang dalam satu gerakan mengubah segenggam pucuk menjadi karya seni. Teh ini memberi ganjaran bagi yang sabar: berikan ia air yang tepat, suhu yang tepat — dan ia akan menjawab dengan tiga aroma: pada hirupan pertama, pada seruputan pertama, dan dalam aftertaste yang panjang dan cemerlang.